Cara Menulis Personal Statement Beasiswa dalam Bahasa Inggris

Ingin peluang lolos beasiswamu makin besar? Yuk, pelajari cara membuat personal statement yang baik dan menarik di artikel ini
—
Congrats buat kamu yang udah lega berhasil dapat beasiswa impian, you made it! Buat kamu yang masih berjuang, semoga kabar baik segera datang. Setelah diterima dari universitas impianmu, dalam tahapan pendaftaran beasiswa, masih ada tahapan yang harus dipersiapkan, salah satunya membuat personal statement.
Personal statement merupakan salah satu penentu penting apakah kamu layak dipilih atau tidak. Makanya, ini harus dibuat semenarik mungkin agar pemberi beasiswa makin yakin sama kualitas diri kamu.
Problem yang sering terjadi, banyak orang yang punya pengalaman dan kemampuan sangat bagus, tapi bingung cara menuangkannya dalam tulisan berbahasa Inggris yang rapi dan enak dibaca. So, guys, penting banget untuk tahu cara menyusun personal statement yang terstruktur dan betul-betul menunjukkan value diri kamu tanpa berlebihan.
Di artikel ini, kamu akan tahu tips-tips menulis personal statement pelamar beasiswa dalam bahasa Inggris supaya lebih standout, profesional, tapi juga terasa sangat personal. Check it out~
Baca Juga: Recommendation Letter: Pengertian, Struktur, Cara Menulis, dan Contohnya
Apa Itu Personal Statement?
Personal statement adalah tulisan esai yang isinya menerangkan tentang latar belakang, kepribadian, kelebihan, nilai hidup, experience, kontribusi pasca kelulusan, dan alasan kuat kenapa kamu kandidat paling layak menerima beasiswa.
Berkas ini membuat kamu punya kesempatan untuk “mempromosikan diri” dan menonjol di antara ribuan pelamar beasiswa lainnya. So, kamu boleh banget menonjolkan keunggulan kamu dan tetap jujur terhadap diri sendiri di personal statement yang kamu buat.
Ingin memperdalam kemampuan bahasa Inggris dan memahami lebih banyak materi dengan cara yang seru dan mudah dipahami Yuk, belajar bareng di English Academy dan klik banner di bawah untuk pilih program belajar yang sesuai dengan kebutuhanmu!
Tujuan Membuat Personal Statement
Personal statement untuk beasiswa bukan sekadar daftar prestasi atau CV berbentuk narasi. Tujuannya adalah menunjukkan kepribadian, potensi, dan passion di luar kegiatan atau nilai akademis.
Sedikit berbeda dengan personal statement university yang fokusnya ke alasan akademik dan kecocokan jurusan, fokus personal statement beasiswa harus menjelaskan dampak atau tujuan sosial setelah kelulusan.
Kamu harus menjelaskan relevansi antara pendidikan atau experience sebelumnya dengan visi karirmu ke depan. Kamu juga perlu membuktikan rencana dan visimu selaras dengan misi atau tujuan pemberi beasiswa.
Baca Juga: Tips Lolos Beasiswa Luar Negeri, Study Abroad Yuk!
Struktur Personal Statement Scholarship
Supaya personal statement kamu mudah dipahami dan enak dibaca, tulisan harus dibuat terstruktur. Kamu bisa mengikuti alur berikut ini, mulai dari perkenalan diri, latar belakang, pencapaian, tujuan studi, hingga kontribusimu kelak.
1. Opening (Hook)
Bagian pembuka tujuannya adalah memperkenalkan diri. Di sini, kamu juga bisa menjelaskan alasan kamu mengajukan beasiswa. Sebaiknya opening langsung menggunakan diksi atau kalimat yang menarik perhatian dan memberikan gambaran tentang motivasimu.
Misalnya;
- I am eager to apply for this scholarship as it aligns with my academic aspirations and long-term career goals.
- I am writing to express my interest in applying for the scholarship program offered by…
2. Latar Belakang dan Pengalaman
Bagian ini menjelaskan latar belakang pendidikan, pengalaman organisasi, pekerjaan atau proyek yang sedang dijalani. Kamu juga bisa menambahkan pengalaman hidup yang membentuk minat dan tujuan hidup kamu. Penting diketahui, tulislah hanya pengalaman yang relevan dengan program yang dituju.
Misalnya;
- My experience as a volunteer taught me the importance of leadership, teamwork, and problem-solving.
- These life experiences strengthened my interest in pursuing a career in psychology.
3. Alasan Memilih Program dan Kampus
Pada bagian ini, jelaskan alasan kamu memilih program studi atau universitas tersebut. Inilah kesempatan kamu mengeluarkan seluruh pemahaman kamu tentang keunggulan program yang ditawarkan.
Misalnya;
- I believe this program will provide the knowledge and skills necessary to achieve my professional goals.
- I am particularly interested in this program because of its strong focus on practical learning and research.
4. Prospek Masa Depan (Kontribusi)
Biasanya ini menjadi salah satu fokus utama pemberi beasiswa, melihat kontribusimu terhadap sosial. Di sini, kamu bisa menjelaskan tujuan jangka panjang dan bagaimana nantinya ilmu di perkuliahan kamu bisa memberikan dampak positif yang lebih luas ke masyarakat, industri, bahkan negara.
Misalnya;
- Upon completing my studies, I am committed to contributing to the improvement of workers’ wages and overall labor welfare in Indonesia.
- My long-term objective is to enhance access to technology for schools in underserved communities that have limited exposure to modern educational resources and technological advancements.
5. Closing (Penutup)
Bagian penutup bisa kamu gunakan untuk merangkum semua statement yang sudah kamu sampaikan. Kamu juga bisa menambahkan apresiasi kepada pihak pemberi beasiswa. Tidak perlu berlebihan, sekadarnya saja. Buatlah singkat, sopan, dan profesional.
Misalnya;
- I am confident that this scholarship will provide me with the opportunity to fully realize my potential and empower me to make a greater contribution to society.
- I sincerely appreciate your time and consideration. I would be honoured to be granted the opportunity to become part of this prestigious program and further pursue my professional aspirations.
Sudah sejauh mana kemampuan bahasa Inggris kamu? Yuk, cari tahu lewat placement test dari English Academy supaya kamu bisa tahu materi mana yang perlu ditingkatkan. Klik banner di bawah ini, GRATIS dan dapat sertifikat, lho!
Baca Juga: Cara Menulis Essay Bahasa Inggris yang Baik dan Benar
Kosakata Academic Writing yang Harus Dikuasai
Pembuatan personal statement pelamar beasiswa umumnya ditulis menggunakan kosakata akademik atau biasanya dikenal dengan istilah academic writing. Level penulisannya agak berbeda dengan penggunaan bahasa sehari-hari.
Academic writing biasanya punya ciri khas tersendiri yang membuat seorang bisa langsung mengenalinya jika itu tulisan akademik. Salah satu cirinya menggunakan istilah tingkat tinggi sesuai topik penulisan. Karena itu, tanpa berlatih, kamu bisa kesulitan melakukan academic writing.
Berikut beberapa daftar kosakata yang umum digunakan dalam penulisan personal statement beasiswa.
Kata Umum
Academic Writing
Arti
Build
Establish, Develop
Membangun
Use
Utilize
Menggunakan
Get
Obtain, Acquire
Memperoleh
Make
Create, Develop
Membuat, Mengembangkan
Improve
Enhance
Meningkatkan
Need
Require
Membutuhkan
Give
Provide
Memberikan
Find
Identify, Discover
Menemukan
Start
Initiate, Commence
Memulai
Work
Contribute, Engage
Bekerja, Berkontribusi
Grow
Develop, Advance
Berkembang
Reach
Achieve, Attain
Mencapai
Know
Understand, Be familiar with
Memahami, Mengetahui
Solve
Resolve, Address
Menyelesaikan
Change
Transform
Mengubah
Join
Participate in, Engage in
Bergabung
Keep
Maintain, Sustain
Mempertahankan
Focus on
Concentrate in, Emphasize
Berfokus pada
Plan
Formulate, Develop
Merencanakan
Get through it
Survive, Penetrate
Melewati
Baca Juga: Cohesion & Coherence: Rahasia Penilaian dalam IELTS Writing
Contoh Personal Statement
Supaya penjelasan di atas lebih ada gambaran, kamu bisa lihat contoh personal statement example for university scholarship dalam bahasa Inggris, di bawah ini:
The question that led me to the field of psychology did not originate in a classroom. Rather, it emerged from a conversation with a twelve-year-old boy living beneath a bridge in Jakarta.
As a volunteer in an educational community program for street children, I met a boy who rarely spoke throughout our activities. While the other children eagerly participated in discussions and games, he preferred to sit quietly and observe from a distance. One afternoon, after several weeks of building trust and attempting to engage with him, he finally shared the story of his parents’ divorce. What struck me was not the divorce itself, but the way he interpreted it. Instead of expressing anger or sadness, he repeatedly blamed himself for the separation, believing that he was somehow responsible for the breakdown of his family.
That conversation remained with me long after the program ended. It led me to question how children make sense of family conflict and whether parental separation inevitably results in negative psychological outcomes. More importantly, I began to wonder whether effective co-parenting could still be achieved among families facing severe socioeconomic hardship. These questions motivated me to explore psychology beyond textbooks and sparked a deep interest in developmental and family psychology.
Alongside my volunteer work, I actively participated in student organizations, where I developed leadership, communication, and collaboration skills while working with individuals from diverse backgrounds. These experiences strengthened my capacity to listen with empathy and reinforced my understanding that social issues are ultimately rooted in human experiences, relationships, and behavior.
These experiences have inspired me to pursue a Master’s degree in Family Psychology, because I believe that evidence-based interventions are essential to addressing the psychological challenges faced by vulnerable children and families. Advanced study will equip me with the theoretical foundation, research skills, and practical expertise necessary to develop sustainable solutions for children affected by family instability and socioeconomic hardship.
Upon completing the program, I intend to return to Indonesia and continue serving vulnerable communities through volunteer initiatives while contributing to child welfare efforts through organizations such as the Indonesian Child Protection Commission (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) in about 2-3 years. Working directly with at-risk children and families, alongside the government, will allow me to apply the knowledge and skills gained from my studies while developing a deeper understanding of the social and psychological challenges they face.
In the long term, I aspire to establish a community-based foundation dedicated to supporting children from vulnerable family backgrounds, particularly those affected by parental separation and economic adversity. Beyond providing educational opportunities, the foundation would focus on psychological support, resilience-building programs, and family-centered interventions designed to help children process adversity in healthy and constructive ways. My goal is to create a safe environment where children can heal, develop confidence, and pursue their aspirations without being defined by the challenges they experienced during childhood.
Receiving this scholarship would enable me to gain the knowledge, professional training, and international perspective necessary to advance child and family welfare initiatives in Indonesia. Combined with my experience in community service and youth leadership, this opportunity would allow me to transform my long-term vision into meaningful and sustainable impact for vulnerable children and families.
Terjemahan
Pertanyaan yang membawa saya ke bidang psikologi bukan berasal dari ruang kelas. Pertanyaan itu berasal dari percakapan dengan seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang tinggal di kolong jembatan di Jakarta.
Sebagai volunteer dalam sebuah komunitas pendidikan untuk anak-anak jalanan, saya bertemu dengan seorang anak yang jarang bicara sepanjang aktivitas komunitas. Sementara anak-anak yang lain begitu antusias dengan setiap kegiatan, anak ini lebih suka duduk sendirian dan mengamati saja. Suatu sore, setelah beberapa minggu membangun kepercayaan dan berupaya menjalin komunikasi dengannya, ia akhirnya menceritakan kisah tentang perceraian orang tuanya. Hal yang paling membekas bagi saya bukanlah perceraian itu sendiri, melainkan cara ia memaknainya. Alih-alih mengungkapkan kemarahan atau kesedihan, ia berulang kali menyalahkan dirinya atas perpisahan itu, seolah meyakini bahwa dirinya adalah penyebab keruntuhan keluarganya.
Percakapan itu terus melekat dalam ingatan saya, bahkan setelah program tersebut berakhir. Pengalaman tersebut mendorong pertanyaan dalam benak saya, bagaimana anak-anak memahami konflik dalam keluarga dan apakah perpisahan orang tua selalu berujung pada dampak psikologis yang negatif. Lebih dari itu, saya mulai mempertanyakan apakah pengasuhan bersama yang efektif masih dapat diwujudkan dalam keluarga yang menghadapi kesulitan sosial ekonomi yang berat. Pertanyaan-pertanyaan ini memotivasi saya untuk mengeksplorasi psikologi di luar buku teks dan memicu minat saya terhadap psikologi perkembangan dan keluarga.
Di samping kegiatan saya sebagai volunteer di komunitas tersebut, saya aktif berpartisipasi dalam berbagai organisasi mahasiswa. Melalui pengalaman tersebut, saya mengembangkan keterampilan kepemimpinan, komunikasi, dan kolaborasi saat bekerja bersama individu dari berbagai latar belakang. Pengalaman-pengalaman tersebut memperkuat kemampuan saya untuk mendengar dengan empati, serta memperdalam pemahaman saya bahwa berbagai masalah sosial pada dasarnya berakar pada pengalaman, relasi, dan perilaku manusia.
Rangkaian pengalaman tersebut menginspirasi saya untuk melanjutkan studi Magister Psikologi Keluarga. Saya meyakini bahwa intervensi yang berbasis bukti ilmiah merupakan kunci dalam mengatasi berbagai tantangan psikologis yang dihadapi anak-anak dan keluarga rentan. Melalui pendidikan lanjutan, saya berharap dapat memperoleh landasan teoritis yang kuat, keterampilan penelitian yang mendalam, serta kompetensi praktis yang diperlukan untuk mengembangkan solusi yang berkelanjutan bagi anak-anak yang terdampak oleh ketidakstabilan keluarga dan kesulitan sosial ekonomi.
Setelah menyelesaikan program ini, saya berniat untuk kembali ke Indonesia melanjutkan kegiatan sebagai volunteer di komunitas. Saya juga berharap dapat berkontribusi khusus pada upaya perlindungan dan kesejahteraan anak melalui lembaga seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sekitar 2-3 tahun. Bekerja secara langsung dengan anak-anak dan keluarga dalam kondisi rentan, sekaligus berkolaborasi dengan pemerintah, akan memberikan kesempatan bagi saya untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama studi saya, sembari memperdalam pemahaman terhadap tantangan sosial dan psikologis yang mereka hadapi.
Dalam jangka panjang, saya ingin mendirikan sebuah yayasan berbasis komunitas yang berfokus pada pendampingan anak-anak dari keluarga rentan, khususnya mereka yang terdampak oleh perpisahan orang tua dan kesulitan ekonomi. Selain menyediakan akses pendidikan, yayasan tersebut akan fokus pada dukungan psikologis, program penguatan resiliensi, dan berbagai intervensi lain yang berpusat pada keluarga yang membantu anak-anak menghadapi dan memproses berbagai kesulitan dengan cara yang sehat dan konstruktif. Tujuan saya adalah menciptakan lingkungan yang aman dan suportif, di mana anak-anak dapat pulih, mengembangun kepercayaan diri, serta meraih cita-cita mereka tanpa dibayangi oleh tantangan yang mereka alami selama masa kanak-kanak.
Menerima beasiswa ini akan memberikan saya kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, pelatihan profesional, dan perspektif internasional yang diperlukan guna mendorong berbagai inisiatif kesejahteraan anak dan keluarga di Indonesia. Dipadukan dengan pengalaman saya dalam pengabdian masyarakat dan kepemimpinan pemuda, kesempatan ini akan memungkinkan saya untuk mengubah visi jangka panjang tersebut menjadi dampak nyata, berkelanjutan, dan bermakna bagi anak-anak serta keluarga yang membutuhkan.
Baca Juga: Pertanyaan Interview Beasiswa dalam Bahasa Inggris dan Cara Menjawabnya
Buat kamu yang berusia 18 tahun ke atas dan ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris untuk kuliah, karier, atau persiapan studi ke luar negeri, program Explorer dari English Academy siap bantu kamu belajar lebih percaya diri! Klik banner di bawah untuk ikuti programnya!
Kesalahan yang Sering Terjadi saat Menulis Personal Statement
Beberapa kesalahan sering dilakukan para kandidat dalam penulisan personal statement. Bahkan, kandidat dengan kualifikasi cemerlang pun bisa gagal karena kesalahan berikut ini, guys. Memahami celahnya bisa menyelamatkan kamu dari penolakan. So, check this out!
1. Informasi terlalu umum
Ada beberapa kalimat yang kurang mengesankan karena sifatnya seperti memberikan informasi yang terlalu general. Misalnya, kalimat seperti “saya ingin kuliah di luar negeri untuk menambah pengalaman dan wawasan” atau “program ini akan membantu saya berkembang,” sebaiknya dihindari. Kalimat seperti ini, tidak menunjukkan perbedaanmu dengan kandidat lain. Personal statement yang efektif harus spesifik menunjukkan bahwa esai ini khusus ditulis untuk mereka.
2. Menulis seperti CV
CV sifatnya hanya data, sementara di dalam personal statement kamu perlu “bercerita”. So, tidak perlu lagi menuliskan daftar prestasi atau perjalanan akademikmu di dalam personal statement. Sebab, yang mereka cari adalah cerita di balik angka dan gelar yang tercantum dalam CV-mu.
3. Fokus pada latar belakang pribadi dan tidak menjelaskan relevansi
Latar belakang atau konteks personal dalam penulisan personal statement memang perlu, tapi tidak perlu menjelaskannya terlalu dalam hingga jauh relevansinya dengan program yang kamu daftarkan. Ingat, personal statement bukanlah biografimu. Setiap informasi yang kamu tulis, harus punya tujuan dan relevan dengan aplikasimu.
4. Tidak mengikuti guidelines yang diberikan
Pemberi beasiswa biasanya memiliki guidelines untuk penulisan personal statement, seperti format penulisan, font, panjang tulisan, dan sebagainya. Kamu sebaiknya tidak abai dengan instruksi ini, apalagi menggunakan aturanmu sesuka hati. Kurang teliti dengan guidelines, bisa membuat aplikasimu diskualifikasi. Pastikan pertanyaan-pertanyaan spesifik yang diberikan terjawab dengan jelas.
5. Plagiat
Ingat, kamu bukan satu-satunya orang yang mendaftar beasiswa. Sudah ribuan personal statement kandidat bgeasiswa dibaca oleh reviewer. Jangan remehkan hal ini, karena pasti reviewer sudah mengenali mana tulisan yang mengandung plagiarisme.
6. Kesalahan grammar
Kesalahan grammar bisa menunjukkan kualitas penulisanmu dan ini sangat berpotensi kamu tidak lolos dalam tahapan aplikasi. Maka, sebaiknya lakukan lakukan proofreading saat menulis personal statement. Kamu bisa menggunakan jasa profesional atau pihak ketiga juga lho untuk melakukan proofreading.
Baca Juga: Cara Membuat Motivation Letter Bahasa Inggris & Contohnya
—
Nah, sekarang kamu sudah punya gambaran untuk menulis personal statement–mu sendiri. Informasi lengkap di sini, bisa kamu jadiin panduannya. Catat! cobalah untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam penulisan. Sebab, ini menjadi penentu besar aplikasi beasiswamu lolos atau tidak.
Tentunya personal statement yang kamu buat akan minim kesalahan penulisan, kalau bahasa Inggris kamu sudah di level advance, nih! Makanya yuk, asah kemampuan writing dan speaking kamu di English Academy.
Yuk, mulai persiapan IELTS dari sekarang bersama English Academy!
References:
Schoters. 2022. Apa Itu Personal Statement Beasiswa dan Tips Menulisnya. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://blog.schoters.com/personal-statement-beasiswa.
Avery, Kevin. (n.d.). Bagaimana Menulis Personal Statement untuk Beasiswa. British Council. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://www.britishcouncilfoundation.id/english/articles/personal-statement.
Safira, Adina. 2019. Kosakata Academic Writing Paling Banyak Digunakan. Language Center. Diakses pada 25 Mei, dari https://www.kampunginggris.id/kosakata-academic-writing#elementor-toc__heading-anchor-3

Ingin peluang lolos beasiswamu makin besar? Yuk, pelajari cara membuat personal statement yang baik dan menarik di artikel ini
—
Congrats buat kamu yang udah lega berhasil dapat beasiswa impian, you made it! Buat kamu yang masih berjuang, semoga kabar baik segera datang. Setelah diterima dari universitas impianmu, dalam tahapan pendaftaran beasiswa, masih ada tahapan yang harus dipersiapkan, salah satunya membuat personal statement.
Personal statement merupakan salah satu penentu penting apakah kamu layak dipilih atau tidak. Makanya, ini harus dibuat semenarik mungkin agar pemberi beasiswa makin yakin sama kualitas diri kamu.
Problem yang sering terjadi, banyak orang yang punya pengalaman dan kemampuan sangat bagus, tapi bingung cara menuangkannya dalam tulisan berbahasa Inggris yang rapi dan enak dibaca. So, guys, penting banget untuk tahu cara menyusun personal statement yang terstruktur dan betul-betul menunjukkan value diri kamu tanpa berlebihan.
Di artikel ini, kamu akan tahu tips-tips menulis personal statement pelamar beasiswa dalam bahasa Inggris supaya lebih standout, profesional, tapi juga terasa sangat personal. Check it out~
Baca Juga: Recommendation Letter: Pengertian, Struktur, Cara Menulis, dan Contohnya
Apa Itu Personal Statement?
Personal statement adalah tulisan esai yang isinya menerangkan tentang latar belakang, kepribadian, kelebihan, nilai hidup, experience, kontribusi pasca kelulusan, dan alasan kuat kenapa kamu kandidat paling layak menerima beasiswa.
Berkas ini membuat kamu punya kesempatan untuk “mempromosikan diri” dan menonjol di antara ribuan pelamar beasiswa lainnya. So, kamu boleh banget menonjolkan keunggulan kamu dan tetap jujur terhadap diri sendiri di personal statement yang kamu buat.
Ingin memperdalam kemampuan bahasa Inggris dan memahami lebih banyak materi dengan cara yang seru dan mudah dipahami Yuk, belajar bareng di English Academy dan klik banner di bawah untuk pilih program belajar yang sesuai dengan kebutuhanmu!
Tujuan Membuat Personal Statement
Personal statement untuk beasiswa bukan sekadar daftar prestasi atau CV berbentuk narasi. Tujuannya adalah menunjukkan kepribadian, potensi, dan passion di luar kegiatan atau nilai akademis.
Sedikit berbeda dengan personal statement university yang fokusnya ke alasan akademik dan kecocokan jurusan, fokus personal statement beasiswa harus menjelaskan dampak atau tujuan sosial setelah kelulusan.
Kamu harus menjelaskan relevansi antara pendidikan atau experience sebelumnya dengan visi karirmu ke depan. Kamu juga perlu membuktikan rencana dan visimu selaras dengan misi atau tujuan pemberi beasiswa.
Baca Juga: Tips Lolos Beasiswa Luar Negeri, Study Abroad Yuk!
Struktur Personal Statement Scholarship
Supaya personal statement kamu mudah dipahami dan enak dibaca, tulisan harus dibuat terstruktur. Kamu bisa mengikuti alur berikut ini, mulai dari perkenalan diri, latar belakang, pencapaian, tujuan studi, hingga kontribusimu kelak.
1. Opening (Hook)
Bagian pembuka tujuannya adalah memperkenalkan diri. Di sini, kamu juga bisa menjelaskan alasan kamu mengajukan beasiswa. Sebaiknya opening langsung menggunakan diksi atau kalimat yang menarik perhatian dan memberikan gambaran tentang motivasimu.
Misalnya;
- I am eager to apply for this scholarship as it aligns with my academic aspirations and long-term career goals.
- I am writing to express my interest in applying for the scholarship program offered by…
2. Latar Belakang dan Pengalaman
Bagian ini menjelaskan latar belakang pendidikan, pengalaman organisasi, pekerjaan atau proyek yang sedang dijalani. Kamu juga bisa menambahkan pengalaman hidup yang membentuk minat dan tujuan hidup kamu. Penting diketahui, tulislah hanya pengalaman yang relevan dengan program yang dituju.
Misalnya;
- My experience as a volunteer taught me the importance of leadership, teamwork, and problem-solving.
- These life experiences strengthened my interest in pursuing a career in psychology.
3. Alasan Memilih Program dan Kampus
Pada bagian ini, jelaskan alasan kamu memilih program studi atau universitas tersebut. Inilah kesempatan kamu mengeluarkan seluruh pemahaman kamu tentang keunggulan program yang ditawarkan.
Misalnya;
- I believe this program will provide the knowledge and skills necessary to achieve my professional goals.
- I am particularly interested in this program because of its strong focus on practical learning and research.
4. Prospek Masa Depan (Kontribusi)
Biasanya ini menjadi salah satu fokus utama pemberi beasiswa, melihat kontribusimu terhadap sosial. Di sini, kamu bisa menjelaskan tujuan jangka panjang dan bagaimana nantinya ilmu di perkuliahan kamu bisa memberikan dampak positif yang lebih luas ke masyarakat, industri, bahkan negara.
Misalnya;
- Upon completing my studies, I am committed to contributing to the improvement of workers’ wages and overall labor welfare in Indonesia.
- My long-term objective is to enhance access to technology for schools in underserved communities that have limited exposure to modern educational resources and technological advancements.
5. Closing (Penutup)
Bagian penutup bisa kamu gunakan untuk merangkum semua statement yang sudah kamu sampaikan. Kamu juga bisa menambahkan apresiasi kepada pihak pemberi beasiswa. Tidak perlu berlebihan, sekadarnya saja. Buatlah singkat, sopan, dan profesional.
Misalnya;
- I am confident that this scholarship will provide me with the opportunity to fully realize my potential and empower me to make a greater contribution to society.
- I sincerely appreciate your time and consideration. I would be honoured to be granted the opportunity to become part of this prestigious program and further pursue my professional aspirations.
Sudah sejauh mana kemampuan bahasa Inggris kamu? Yuk, cari tahu lewat placement test dari English Academy supaya kamu bisa tahu materi mana yang perlu ditingkatkan. Klik banner di bawah ini, GRATIS dan dapat sertifikat, lho!
Baca Juga: Cara Menulis Essay Bahasa Inggris yang Baik dan Benar
Kosakata Academic Writing yang Harus Dikuasai
Pembuatan personal statement pelamar beasiswa umumnya ditulis menggunakan kosakata akademik atau biasanya dikenal dengan istilah academic writing. Level penulisannya agak berbeda dengan penggunaan bahasa sehari-hari.
Academic writing biasanya punya ciri khas tersendiri yang membuat seorang bisa langsung mengenalinya jika itu tulisan akademik. Salah satu cirinya menggunakan istilah tingkat tinggi sesuai topik penulisan. Karena itu, tanpa berlatih, kamu bisa kesulitan melakukan academic writing.
Berikut beberapa daftar kosakata yang umum digunakan dalam penulisan personal statement beasiswa.
| Kata Umum | Academic Writing | Arti |
| Build | Establish, Develop | Membangun |
| Use | Utilize | Menggunakan |
| Get | Obtain, Acquire | Memperoleh |
| Make | Create, Develop | Membuat, Mengembangkan |
| Improve | Enhance | Meningkatkan |
| Need | Require | Membutuhkan |
| Give | Provide | Memberikan |
| Find | Identify, Discover | Menemukan |
| Start | Initiate, Commence | Memulai |
| Work | Contribute, Engage | Bekerja, Berkontribusi |
| Grow | Develop, Advance | Berkembang |
| Reach | Achieve, Attain | Mencapai |
| Know | Understand, Be familiar with | Memahami, Mengetahui |
| Solve | Resolve, Address | Menyelesaikan |
| Change | Transform | Mengubah |
| Join | Participate in, Engage in | Bergabung |
| Keep | Maintain, Sustain | Mempertahankan |
| Focus on | Concentrate in, Emphasize | Berfokus pada |
| Plan | Formulate, Develop | Merencanakan |
| Get through it | Survive, Penetrate | Melewati |
Baca Juga: Cohesion & Coherence: Rahasia Penilaian dalam IELTS Writing
Contoh Personal Statement
Supaya penjelasan di atas lebih ada gambaran, kamu bisa lihat contoh personal statement example for university scholarship dalam bahasa Inggris, di bawah ini:
The question that led me to the field of psychology did not originate in a classroom. Rather, it emerged from a conversation with a twelve-year-old boy living beneath a bridge in Jakarta.
As a volunteer in an educational community program for street children, I met a boy who rarely spoke throughout our activities. While the other children eagerly participated in discussions and games, he preferred to sit quietly and observe from a distance. One afternoon, after several weeks of building trust and attempting to engage with him, he finally shared the story of his parents’ divorce. What struck me was not the divorce itself, but the way he interpreted it. Instead of expressing anger or sadness, he repeatedly blamed himself for the separation, believing that he was somehow responsible for the breakdown of his family.
That conversation remained with me long after the program ended. It led me to question how children make sense of family conflict and whether parental separation inevitably results in negative psychological outcomes. More importantly, I began to wonder whether effective co-parenting could still be achieved among families facing severe socioeconomic hardship. These questions motivated me to explore psychology beyond textbooks and sparked a deep interest in developmental and family psychology.
Alongside my volunteer work, I actively participated in student organizations, where I developed leadership, communication, and collaboration skills while working with individuals from diverse backgrounds. These experiences strengthened my capacity to listen with empathy and reinforced my understanding that social issues are ultimately rooted in human experiences, relationships, and behavior.
These experiences have inspired me to pursue a Master’s degree in Family Psychology, because I believe that evidence-based interventions are essential to addressing the psychological challenges faced by vulnerable children and families. Advanced study will equip me with the theoretical foundation, research skills, and practical expertise necessary to develop sustainable solutions for children affected by family instability and socioeconomic hardship.
Upon completing the program, I intend to return to Indonesia and continue serving vulnerable communities through volunteer initiatives while contributing to child welfare efforts through organizations such as the Indonesian Child Protection Commission (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) in about 2-3 years. Working directly with at-risk children and families, alongside the government, will allow me to apply the knowledge and skills gained from my studies while developing a deeper understanding of the social and psychological challenges they face.
In the long term, I aspire to establish a community-based foundation dedicated to supporting children from vulnerable family backgrounds, particularly those affected by parental separation and economic adversity. Beyond providing educational opportunities, the foundation would focus on psychological support, resilience-building programs, and family-centered interventions designed to help children process adversity in healthy and constructive ways. My goal is to create a safe environment where children can heal, develop confidence, and pursue their aspirations without being defined by the challenges they experienced during childhood.
Receiving this scholarship would enable me to gain the knowledge, professional training, and international perspective necessary to advance child and family welfare initiatives in Indonesia. Combined with my experience in community service and youth leadership, this opportunity would allow me to transform my long-term vision into meaningful and sustainable impact for vulnerable children and families.
Terjemahan
Pertanyaan yang membawa saya ke bidang psikologi bukan berasal dari ruang kelas. Pertanyaan itu berasal dari percakapan dengan seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang tinggal di kolong jembatan di Jakarta.
Sebagai volunteer dalam sebuah komunitas pendidikan untuk anak-anak jalanan, saya bertemu dengan seorang anak yang jarang bicara sepanjang aktivitas komunitas. Sementara anak-anak yang lain begitu antusias dengan setiap kegiatan, anak ini lebih suka duduk sendirian dan mengamati saja. Suatu sore, setelah beberapa minggu membangun kepercayaan dan berupaya menjalin komunikasi dengannya, ia akhirnya menceritakan kisah tentang perceraian orang tuanya. Hal yang paling membekas bagi saya bukanlah perceraian itu sendiri, melainkan cara ia memaknainya. Alih-alih mengungkapkan kemarahan atau kesedihan, ia berulang kali menyalahkan dirinya atas perpisahan itu, seolah meyakini bahwa dirinya adalah penyebab keruntuhan keluarganya.
Percakapan itu terus melekat dalam ingatan saya, bahkan setelah program tersebut berakhir. Pengalaman tersebut mendorong pertanyaan dalam benak saya, bagaimana anak-anak memahami konflik dalam keluarga dan apakah perpisahan orang tua selalu berujung pada dampak psikologis yang negatif. Lebih dari itu, saya mulai mempertanyakan apakah pengasuhan bersama yang efektif masih dapat diwujudkan dalam keluarga yang menghadapi kesulitan sosial ekonomi yang berat. Pertanyaan-pertanyaan ini memotivasi saya untuk mengeksplorasi psikologi di luar buku teks dan memicu minat saya terhadap psikologi perkembangan dan keluarga.
Di samping kegiatan saya sebagai volunteer di komunitas tersebut, saya aktif berpartisipasi dalam berbagai organisasi mahasiswa. Melalui pengalaman tersebut, saya mengembangkan keterampilan kepemimpinan, komunikasi, dan kolaborasi saat bekerja bersama individu dari berbagai latar belakang. Pengalaman-pengalaman tersebut memperkuat kemampuan saya untuk mendengar dengan empati, serta memperdalam pemahaman saya bahwa berbagai masalah sosial pada dasarnya berakar pada pengalaman, relasi, dan perilaku manusia.
Rangkaian pengalaman tersebut menginspirasi saya untuk melanjutkan studi Magister Psikologi Keluarga. Saya meyakini bahwa intervensi yang berbasis bukti ilmiah merupakan kunci dalam mengatasi berbagai tantangan psikologis yang dihadapi anak-anak dan keluarga rentan. Melalui pendidikan lanjutan, saya berharap dapat memperoleh landasan teoritis yang kuat, keterampilan penelitian yang mendalam, serta kompetensi praktis yang diperlukan untuk mengembangkan solusi yang berkelanjutan bagi anak-anak yang terdampak oleh ketidakstabilan keluarga dan kesulitan sosial ekonomi.
Setelah menyelesaikan program ini, saya berniat untuk kembali ke Indonesia melanjutkan kegiatan sebagai volunteer di komunitas. Saya juga berharap dapat berkontribusi khusus pada upaya perlindungan dan kesejahteraan anak melalui lembaga seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sekitar 2-3 tahun. Bekerja secara langsung dengan anak-anak dan keluarga dalam kondisi rentan, sekaligus berkolaborasi dengan pemerintah, akan memberikan kesempatan bagi saya untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama studi saya, sembari memperdalam pemahaman terhadap tantangan sosial dan psikologis yang mereka hadapi.
Dalam jangka panjang, saya ingin mendirikan sebuah yayasan berbasis komunitas yang berfokus pada pendampingan anak-anak dari keluarga rentan, khususnya mereka yang terdampak oleh perpisahan orang tua dan kesulitan ekonomi. Selain menyediakan akses pendidikan, yayasan tersebut akan fokus pada dukungan psikologis, program penguatan resiliensi, dan berbagai intervensi lain yang berpusat pada keluarga yang membantu anak-anak menghadapi dan memproses berbagai kesulitan dengan cara yang sehat dan konstruktif. Tujuan saya adalah menciptakan lingkungan yang aman dan suportif, di mana anak-anak dapat pulih, mengembangun kepercayaan diri, serta meraih cita-cita mereka tanpa dibayangi oleh tantangan yang mereka alami selama masa kanak-kanak.
Menerima beasiswa ini akan memberikan saya kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, pelatihan profesional, dan perspektif internasional yang diperlukan guna mendorong berbagai inisiatif kesejahteraan anak dan keluarga di Indonesia. Dipadukan dengan pengalaman saya dalam pengabdian masyarakat dan kepemimpinan pemuda, kesempatan ini akan memungkinkan saya untuk mengubah visi jangka panjang tersebut menjadi dampak nyata, berkelanjutan, dan bermakna bagi anak-anak serta keluarga yang membutuhkan.
Baca Juga: Pertanyaan Interview Beasiswa dalam Bahasa Inggris dan Cara Menjawabnya
Buat kamu yang berusia 18 tahun ke atas dan ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris untuk kuliah, karier, atau persiapan studi ke luar negeri, program Explorer dari English Academy siap bantu kamu belajar lebih percaya diri! Klik banner di bawah untuk ikuti programnya!
Kesalahan yang Sering Terjadi saat Menulis Personal Statement
Beberapa kesalahan sering dilakukan para kandidat dalam penulisan personal statement. Bahkan, kandidat dengan kualifikasi cemerlang pun bisa gagal karena kesalahan berikut ini, guys. Memahami celahnya bisa menyelamatkan kamu dari penolakan. So, check this out!
1. Informasi terlalu umum
Ada beberapa kalimat yang kurang mengesankan karena sifatnya seperti memberikan informasi yang terlalu general. Misalnya, kalimat seperti “saya ingin kuliah di luar negeri untuk menambah pengalaman dan wawasan” atau “program ini akan membantu saya berkembang,” sebaiknya dihindari. Kalimat seperti ini, tidak menunjukkan perbedaanmu dengan kandidat lain. Personal statement yang efektif harus spesifik menunjukkan bahwa esai ini khusus ditulis untuk mereka.
2. Menulis seperti CV
CV sifatnya hanya data, sementara di dalam personal statement kamu perlu “bercerita”. So, tidak perlu lagi menuliskan daftar prestasi atau perjalanan akademikmu di dalam personal statement. Sebab, yang mereka cari adalah cerita di balik angka dan gelar yang tercantum dalam CV-mu.
3. Fokus pada latar belakang pribadi dan tidak menjelaskan relevansi
Latar belakang atau konteks personal dalam penulisan personal statement memang perlu, tapi tidak perlu menjelaskannya terlalu dalam hingga jauh relevansinya dengan program yang kamu daftarkan. Ingat, personal statement bukanlah biografimu. Setiap informasi yang kamu tulis, harus punya tujuan dan relevan dengan aplikasimu.
4. Tidak mengikuti guidelines yang diberikan
Pemberi beasiswa biasanya memiliki guidelines untuk penulisan personal statement, seperti format penulisan, font, panjang tulisan, dan sebagainya. Kamu sebaiknya tidak abai dengan instruksi ini, apalagi menggunakan aturanmu sesuka hati. Kurang teliti dengan guidelines, bisa membuat aplikasimu diskualifikasi. Pastikan pertanyaan-pertanyaan spesifik yang diberikan terjawab dengan jelas.
5. Plagiat
Ingat, kamu bukan satu-satunya orang yang mendaftar beasiswa. Sudah ribuan personal statement kandidat bgeasiswa dibaca oleh reviewer. Jangan remehkan hal ini, karena pasti reviewer sudah mengenali mana tulisan yang mengandung plagiarisme.
6. Kesalahan grammar
Kesalahan grammar bisa menunjukkan kualitas penulisanmu dan ini sangat berpotensi kamu tidak lolos dalam tahapan aplikasi. Maka, sebaiknya lakukan lakukan proofreading saat menulis personal statement. Kamu bisa menggunakan jasa profesional atau pihak ketiga juga lho untuk melakukan proofreading.
Baca Juga: Cara Membuat Motivation Letter Bahasa Inggris & Contohnya
—
Nah, sekarang kamu sudah punya gambaran untuk menulis personal statement–mu sendiri. Informasi lengkap di sini, bisa kamu jadiin panduannya. Catat! cobalah untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam penulisan. Sebab, ini menjadi penentu besar aplikasi beasiswamu lolos atau tidak.
Tentunya personal statement yang kamu buat akan minim kesalahan penulisan, kalau bahasa Inggris kamu sudah di level advance, nih! Makanya yuk, asah kemampuan writing dan speaking kamu di English Academy.
Yuk, mulai persiapan IELTS dari sekarang bersama English Academy!
References:
Schoters. 2022. Apa Itu Personal Statement Beasiswa dan Tips Menulisnya. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://blog.schoters.com/personal-statement-beasiswa.
Avery, Kevin. (n.d.). Bagaimana Menulis Personal Statement untuk Beasiswa. British Council. Diakses pada 25 Mei 2026, dari https://www.britishcouncilfoundation.id/english/articles/personal-statement.
Safira, Adina. 2019. Kosakata Academic Writing Paling Banyak Digunakan. Language Center. Diakses pada 25 Mei, dari https://www.kampunginggris.id/kosakata-academic-writing#elementor-toc__heading-anchor-3





