Mengenal Fenomena Brainrot dan Kamus Gen Alpha

Jangan sampai terjebak delulu di Ohio! Mari bedah asal-usul brainrot, mulai dari istilah Rizz yang legendaris sampai tren Skibidi yang membingungkan.
–
Pernah nggak kamu merasa terjebak dalam siklus sound TikTok yang repetitif? Oh, atau kamu pernah tiba-tiba refleks menyebut istilah-istilah viral, seperti “Skibidi”, “Rizz”, atau “Sigma” di tengah percakapan? Jika iya, wah kamu sedang terjebak dalam jerat brainrot.
Selama beberapa tahun terakhir, media sosial sudah bukan lagi sekadar tempat cari hiburan atau bersosialisasi secara daring, melainkan sudah menjadi media bertumbuhnya bahasa-bahasa baru. Fenomena “bahasa internet” ini bergerak begitu cepat melalui algoritma TikTok, Youtube, Reels Instagram, dan sebagainya.
Di tengah gempuran berbagai macam tren dan bahasa baru di internet, muncul satu istilah yang terdengar asing bagi telinga awam untuk menggambarkan kondisi ini, yaitu brainrot tadi. Brainrot mencerminkan bagaimana konsumsi konten digital mulai membentuk ulang cara kita berpikir, berbahasa, dan berbicara.
Nah, artikel ini akan membedah arti brainrot dan bagaimana bahasa internet ini bisa menggerus bahasa yang lebih dulu kita kenal. Kenapa istilah ini bisa muncul? Apa dampaknya bagi cara komunikasi kita ke depan? Keep scrolling, guys!
Baca Juga: 101 Bio IG Aesthetic Bahasa Inggris Singkat dan Menarik
Apa Itu ‘Brainrot’?
Bagi awam, mungkin brainrot merupakan istilah baru nih. Tetapi, bagi digital natives, istilah brainrot sudah menjadi kamus yang banyak diketahui. Nah, kalau kamu mau memahami brainrot, ini bisa dilihat dari dua sisi, yaitu makna secara harfiah dan slang.
Secara harfiah, brainrot adalah berasal dari kata brain (otak) dan rot (pembusukan). Jadi, jika diartikan keseluruhan, brainrot terdengar seperti kondisi medis yang mengerikan, di mana jaringan-jaringan di otak mengalami kerusakan hingga membusuk.
Namun, dalam budaya internet,brainrot adalah bahasa gaul atau istilah kiasan yang digunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang sudah banyak mengkonsumsi konten berkualitas rendah di internet. Brainrot merujuk pada pembusukan konsentrasi atau selera konten yang kurang melatih daya berpikir kritis seseorang.
Sederhananya, brainrot merupakan suatu kondisi di mana pikiran seseorang seperti “terkontaminasi” oleh konten medsos yang dangkal dan repetitif. So, ini bukan kondisi medis yang sebenarnya, melainkan bagian dari budaya meme (meme culture) dan istilah humor di internet.
Alih-alih disebut sebagai penyakit, brainrot lebih tepat diartikan sebagai fenomena budaya digital yang lahir dari percepatan informasi di platform, seperti Instagram, Tiktok, hingga YouTube. Kondisi ini membuat cara kita berpikir dan berbicara bisa dipengaruhi oleh algoritma media sosial.
Penggunaannya seringkali bersifat sarkastik atau dalam konteks bercanda. Misalnya, ketika seorang terus menerus menyebut istilah baru, seperti “rizz” atau “sigma” hingga terdengar menyebalkan, maka orang ini bisa disebut sudah terkena brainrot.
Sebelum lanjut, kamu ingin fasih bahasa Inggris dalam 3 bulan?
Yuk, belajar di English Academy dengan kurikulum berstandar internasional! Klik banner di bawah untuk konsultasi gratisnya.
Asal Usul Istilah Brainrot
Secara linguistik, istilah brainrot sebenarnya sudah ada sejak lama lho, guys. Kata ini pernah digunakan pada tahun 1854 oleh seorang penulis bernama Henry David Thoreau dalam bukunya berjudul Walden. Saat itu, istilah ini digunakan sebagai bentuk kritik untuk menggambarkan masyarakat dengan kemalasan intelektual atau mereka lebih menyukai hal-hal dangkal dibandingkan pemikiran yang mendalam.
Dalam konteks digital culture, istilah ini mengalami perkembangan melalui beberapa fase, yaitu sebagai berikut:
-
Sebagai lelucon internet
Sekitar akhir 2000-an hingga awal 2010-an, forum-forum seperti Reddit mulai mempopulerkan istilah ini. Para pengguna menggunakan istilah ini secara sarkastik untuk mengejek diri sendiri setelah menghabiskan waktu berjam-jam berselancar di internet dengan melihat konten-konten receh.
-
Berkembang di komunitas gaming dan meme
Setelahnya, istilah ini semakin berkembang di komunitas-komunitas gaming untuk menggambarkan kondisi stuck atau kehilangan fokus setelah sesi bermain terlalu lama. Mereka juga menggunakan istilah ini setelah terpapar brainrot meme atau meme absurd yang tidak masuk di logika manusia.
-
Viral di media sosial masa kini
Setelah era meme viral, istilah ini semakin meledak dan mulai digunakan secara luas oleh pengguna internet, khususnya generasi muda masa kini. Sepanjang tahun 2023 hingga 2024 isitilah ini menjadi mainstream, seiring dengan viralnya banyak konten brainrot yang tersebar di TikTok, Youtube, dan berbagai platform media sosial.
Saat ini, istilah brainrot telah bertransformasi dari sekadar ejekan atau sarkas di internet menjadi identitas sebuah subkultur digital yang mengglorifikasi absurditas. Bahkan, dari sana bermunculan istilah-istilah atau bahasa-bahasa baru, seperti skibidi, ohio, rizz, gyatt, fanum tax, dan sebagainya.
Contoh Brainrot Language
Sampai juga nih ke pembahasan seru ini. Siap-siap ya, karena di sini kita akan menyelam ke dalam “kamus” yang mungkin bikin kamu merasa terheran-heran. Contoh brainrot language ini sering juga disebut sebagai Gen Alpha Slang. Beberapa bahasanya memiliki arti yang jauh dari kata aslinya, bahkan tidak logis sama sekali. Yuk, lihat list berikut ini.
1. Skibidi : Buruk, jahat, aneh, atau sekadar kata sifat tergantung konteks.
Konteks penggunaan: Kata ini sering digunakan sebagai kata depan untuk menunjukkan sesuatu yang negatif atau aneh. Misalnya, “Ih, video itu skibidi banget.”
2. Rizz : Singkatan dari “kharisma”, merujuk pada kemampuan seseorang dalam merayu.
Konteks penggunaan: Biasa digunakan saat seseorang berhasil menggoda orang lain atau seorang yang tampil dengan sangat percaya diri. Misalnya, “Semua orang suka sama dia. Rizz-nya luar biasa!”
3. Sigma : Seorang yang dominan, mandiri, atau keren.
Konteks penggunaan: Digunakan untuk memuji dengan tulus tindakan yang dianggap keren atau berprinsip. Misalnya, “Dia tetap tenang, meski sedang diejek. Benar-benar sigma!”
4. Delulu : Singkatan dari kata “delusional”, untuk menunjukkan seorang yang berperilaku aneh atau tidak rasional.
Konteks penggunaan: Biasanya digunakan dalam konteks romantis atau terobsesi pada artis. Misal, “Dia pikir bakal bisa nikahin artis K-Pop, delulu tingkat tinggi deh.”
5. Gyatt : Slang dari kata God Damn. Untuk menyatakan kegembiraan atau terkejut, khususnya saat mengagumi bentuk tubuh seseorang.
Konteks penggunaan: Biasanya digunakan ketika melihat seseorang dengan fisik yang eye catching, namun seringkali maknanya objektifikasi.
6. Ohio : Aneh, kacau, kondisi tidak ideal.
Konteks penggunaan: Asal muasalnya dari meme yang menganggap negara bagian Ohio di AS adalah tempat penuh monster dan berbagai kejadian tidak rasional. Jadi, kata ini digunakan untuk mendeskripsikan situasi yang kacau. Misal, “Banyak berita absurd, nih negara lama-lama ohio deh.”
7. Fanum Tax : Mengambil makanan teman.
Konteks penggunaan: Kata ini populer karena seorang streamer bernama Fanum yang mengambil makanan temannya, Kai Cenat seolah seperti “pajak”. Jadi, siapapun yang mengambil makanan teman atau orang lain bisa pakai istilah ini. Misal, “Bagi bakwannya dong, buat fanum tax”.
8. Mewing : Membuat ekspresi wajah aneh bertujuan komedi.
Konteks penggunaan: Ini sebenarnya teknik menaruh lidah di langit-langit mulut untuk mempertegas garis rahang. Biasanya digunakan sembari meletakkan jari telunjuk di depan bibir (shushing). Konteksnya, orang yang melakukan latihan ini bisa terlihat lebih tampan/cantik.
9. Goated : Merujuk pada akronim GOAT (Greatest of All Time) atau terbaik sepanjang masa.
Konteks penggunaan: Digunakan untuk menggambarkan seorang yang dianggap sangat luar biasa dan legendaris. Misal, “Lionel Messi pemain goated sepanjang sejarah.”
10. Looksmaxxing : Upaya maksimal untuk meningkatkan penampilan fisik seseorang.
Konteks penggunaan: Digunakan untuk orang-orang yang berupaya maksimal meningkatkan penampilan fisik, seperti sedang diet, olahraga, atau perawatan kulit. Namun, dalam konteks brainrot, ini sering dibahas secara obsesif.
Mengapa Brainrot Viral
Fenomena brainrot bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari perpaduan antara teknologi dan perilaku organik manusia, sehingga menciptakan fenomena baru yang unik.
Platform media sosial, seperti TikTok, Reels Instagram, hingga YouTube Shorts memang dirancang untuk memaksimalkan retensi penonton. Konten brainrot biasanya dirancang berdurasi pendek, hanya sekitar 15-30 detik. Visualnya berubah setiap beberapa detik. Ini bisa memicu pelepasan dopamin secara cepat di otak.
Jika satu saja video brainrot anomali ditonton sampai habis oleh banyak orang, maka algoritma akan mengkategorikannya sebagai konten yang diminati banyak orang. Sehingga sistem akan menyebarkannya ke jutaan orang lainnya, tanpa peduli rasionalitas kontennya. Apalagi, jika konten semacam ini diberi respon oleh penontonnya, maka sebarannya akan semakin luas.
Selain itu, ini juga berkaitan secara psikologis manusia. Otak manusia yang terbiasa dengan kecepatan kerja smartphone sejak dini, cenderung akan mencari stimulasi yang lebih kuat.
Konten brainrot menyajikan warna kontras yang mencolok, suara berisik yang tumpang tindih, juga banyak hal terjadi dalam satu scene. Ini menciptakan kondisi, di mana penonton “terhipnotis” dan akan merasa sulit untuk berhenti scrolling.
Ini menciptakan pergeseran cara anak muda melihat komedi. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih menyukai komedi dengan setup dan punchline yang jelas, generasi masa kini lebih menyukai humor surreal. Semakin absurd sebuah humor, justru akan dianggap semakin lucu.
Banyak juga mereka yang menonton konten brainrot bukan karna mereka benar-benar menyukainya, tapi karena FOMO (Fear of Missing Out). So, unconsciously, mereka masuk ke dalam ekosistem ini yang menyebabkannya menjadi viral.
Dampak Brainrot
Guys, sebenarnya cukup bahaya jika konten brainrot dikonsumsi berlebihan. Ibaratnya, seperti kamu memberikan fast food untuk otak. Rasanya memang menyenangkan di awal, tapi lama-lama akan ada efek sampingnya, dia akan “menggerogoti” otak dari dalam.
Dampak Positif
Meski begitu, ada dampak positif yang memberikan warna baru dalam budaya populer, di antaranya:
- Evolusi bahasa dinamis. Munculnya contoh konten brainrot dan bahasa-bahasa baru yang menyertainya, menunjukkan bahwa generasi muda mampu beradaptasi secara linguistik dan bisa mengekspresikan konsep baru yang mungkin sebelumnya tidak bisa dijelaskan.
- Kreativitas berkembang. Pembuatan konten brainrot membutuhkan daya imajinasi yang liar. Bahkan, seringkali melibatkan teknik editing yang kompleks dengan sinkronisasi audio yang unik.
- Hiburan sederhana. Di tengah berbagai macam tekanan hidup menjadi dewasa, konten nonsense ini kadang menjadi pelarian yang ringan.
- Kebersamaan. Bahasa slang baru ini menciptakan ikatan sosial antar anak dalam satu generasinya. Mereka jadi memiliki “bahasa rahasia” yang kadang mungkin hanya dipahami oleh komunitas mereka.
Dampak Negatif
Di sisi lain, ngeri juga dampak negatif yang ditimbulkan dari konten brainrot ini.
- Komunikasi tidak efisien. Ketika istilah-istilah brainrot dibawa ke dunia nyata, komunikasi jadi kurang efisien. Orang-orang yang tidak terpapar konten ini, mungkin merasa asing, sehingga menghambat interaksi.
- Attention span menurun. Karakter konten brainrot yang kebanyakan hyper-stimulated bisa membuat otak hanya fokus pada sesuatu selama beberapa detik. Dampaknya, kamu akan kesulitan unutk bisa fokus lama.
- Erosi bahasa baku. Nah, ini adalah kekhawatiran terbesarnya. Situasi ini bisa membuat generasi muda, khususnya Gen Alpha, lupa menggunakan bahasa normal atau bahasa ibu. Ada risiko, lama kelamanaan bahasa baku akan tergerus di generasi masa depan.
Baca Juga: Yuk, Ketahui Apa Arti Manchild yang Sedang Viral di TikTok!
–
Gimana, guys? Ngeri juga ya kalau kita terlalu FOMO terhadap hal yang sebenarnya kurang penting dikuasai. Jika digunakan untuk hiburan sesekali bolehlah, tapi jangan sampai ini membuat diri kamu justru dikuasai oleh konten brainrot.
Ingat! Jika bahasa brainrot menjadi satu-satunya cara seseorang berkomunikasi, maka disitulah “pembusukan” ini akan terjadi. Kuasailah bahasa yang memang dibutuhkan untuk kehidupan nyatamu dengan terus berlatih di English Academy. Yuk, coba Kelas Gratisnya dulu!
References:
Oxford University Press. 2024. ‘Brain Rot’ named Oxford Word of The Year 2024. Diakses pada 18 Maret 2026, dari https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year-2024/.
Adair, Cam. 40 Brainrot Slang Words and Phrases Explained. Game Quitters. Diakses pada 18 Maret 2026, dari https://gamequitters.com/brainrot-slang/.
Merriam Webster. Brain Rot. Diakses pada 18 Maret 2026, dari https://www.merriam-webster.com/slang/brain-rot.
Chappell, Bill. 2024. Writer Thoreau warned of Brain Rot in 1854. Now it’s the Oxford Word of 2024. NPR. Diakses pada 18 Maret 2026, dari https://www.npr.org/2024/12/02/nx-s1-5213682/writer-thoreau-warned-of-brain-rot-in-1854-now-its-the-oxford-word-of-2024.

Jangan sampai terjebak delulu di Ohio! Mari bedah asal-usul brainrot, mulai dari istilah Rizz yang legendaris sampai tren Skibidi yang membingungkan.
–
Pernah nggak kamu merasa terjebak dalam siklus sound TikTok yang repetitif? Oh, atau kamu pernah tiba-tiba refleks menyebut istilah-istilah viral, seperti “Skibidi”, “Rizz”, atau “Sigma” di tengah percakapan? Jika iya, wah kamu sedang terjebak dalam jerat brainrot.
Selama beberapa tahun terakhir, media sosial sudah bukan lagi sekadar tempat cari hiburan atau bersosialisasi secara daring, melainkan sudah menjadi media bertumbuhnya bahasa-bahasa baru. Fenomena “bahasa internet” ini bergerak begitu cepat melalui algoritma TikTok, Youtube, Reels Instagram, dan sebagainya.
Di tengah gempuran berbagai macam tren dan bahasa baru di internet, muncul satu istilah yang terdengar asing bagi telinga awam untuk menggambarkan kondisi ini, yaitu brainrot tadi. Brainrot mencerminkan bagaimana konsumsi konten digital mulai membentuk ulang cara kita berpikir, berbahasa, dan berbicara.
Nah, artikel ini akan membedah arti brainrot dan bagaimana bahasa internet ini bisa menggerus bahasa yang lebih dulu kita kenal. Kenapa istilah ini bisa muncul? Apa dampaknya bagi cara komunikasi kita ke depan? Keep scrolling, guys!
Baca Juga: 101 Bio IG Aesthetic Bahasa Inggris Singkat dan Menarik
Apa Itu ‘Brainrot’?
Bagi awam, mungkin brainrot merupakan istilah baru nih. Tetapi, bagi digital natives, istilah brainrot sudah menjadi kamus yang banyak diketahui. Nah, kalau kamu mau memahami brainrot, ini bisa dilihat dari dua sisi, yaitu makna secara harfiah dan slang.
Secara harfiah, brainrot adalah berasal dari kata brain (otak) dan rot (pembusukan). Jadi, jika diartikan keseluruhan, brainrot terdengar seperti kondisi medis yang mengerikan, di mana jaringan-jaringan di otak mengalami kerusakan hingga membusuk.
Namun, dalam budaya internet,brainrot adalah bahasa gaul atau istilah kiasan yang digunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang sudah banyak mengkonsumsi konten berkualitas rendah di internet. Brainrot merujuk pada pembusukan konsentrasi atau selera konten yang kurang melatih daya berpikir kritis seseorang.
Sederhananya, brainrot merupakan suatu kondisi di mana pikiran seseorang seperti “terkontaminasi” oleh konten medsos yang dangkal dan repetitif. So, ini bukan kondisi medis yang sebenarnya, melainkan bagian dari budaya meme (meme culture) dan istilah humor di internet.
Alih-alih disebut sebagai penyakit, brainrot lebih tepat diartikan sebagai fenomena budaya digital yang lahir dari percepatan informasi di platform, seperti Instagram, Tiktok, hingga YouTube. Kondisi ini membuat cara kita berpikir dan berbicara bisa dipengaruhi oleh algoritma media sosial.
Penggunaannya seringkali bersifat sarkastik atau dalam konteks bercanda. Misalnya, ketika seorang terus menerus menyebut istilah baru, seperti “rizz” atau “sigma” hingga terdengar menyebalkan, maka orang ini bisa disebut sudah terkena brainrot.
Sebelum lanjut, kamu ingin fasih bahasa Inggris dalam 3 bulan?
Yuk, belajar di English Academy dengan kurikulum berstandar internasional! Klik banner di bawah untuk konsultasi gratisnya.
Asal Usul Istilah Brainrot
Secara linguistik, istilah brainrot sebenarnya sudah ada sejak lama lho, guys. Kata ini pernah digunakan pada tahun 1854 oleh seorang penulis bernama Henry David Thoreau dalam bukunya berjudul Walden. Saat itu, istilah ini digunakan sebagai bentuk kritik untuk menggambarkan masyarakat dengan kemalasan intelektual atau mereka lebih menyukai hal-hal dangkal dibandingkan pemikiran yang mendalam.
Dalam konteks digital culture, istilah ini mengalami perkembangan melalui beberapa fase, yaitu sebagai berikut:
-
Sebagai lelucon internet
Sekitar akhir 2000-an hingga awal 2010-an, forum-forum seperti Reddit mulai mempopulerkan istilah ini. Para pengguna menggunakan istilah ini secara sarkastik untuk mengejek diri sendiri setelah menghabiskan waktu berjam-jam berselancar di internet dengan melihat konten-konten receh.
-
Berkembang di komunitas gaming dan meme
Setelahnya, istilah ini semakin berkembang di komunitas-komunitas gaming untuk menggambarkan kondisi stuck atau kehilangan fokus setelah sesi bermain terlalu lama. Mereka juga menggunakan istilah ini setelah terpapar brainrot meme atau meme absurd yang tidak masuk di logika manusia.
-
Viral di media sosial masa kini
Setelah era meme viral, istilah ini semakin meledak dan mulai digunakan secara luas oleh pengguna internet, khususnya generasi muda masa kini. Sepanjang tahun 2023 hingga 2024 isitilah ini menjadi mainstream, seiring dengan viralnya banyak konten brainrot yang tersebar di TikTok, Youtube, dan berbagai platform media sosial.
Saat ini, istilah brainrot telah bertransformasi dari sekadar ejekan atau sarkas di internet menjadi identitas sebuah subkultur digital yang mengglorifikasi absurditas. Bahkan, dari sana bermunculan istilah-istilah atau bahasa-bahasa baru, seperti skibidi, ohio, rizz, gyatt, fanum tax, dan sebagainya.
Contoh Brainrot Language
Sampai juga nih ke pembahasan seru ini. Siap-siap ya, karena di sini kita akan menyelam ke dalam “kamus” yang mungkin bikin kamu merasa terheran-heran. Contoh brainrot language ini sering juga disebut sebagai Gen Alpha Slang. Beberapa bahasanya memiliki arti yang jauh dari kata aslinya, bahkan tidak logis sama sekali. Yuk, lihat list berikut ini.
1. Skibidi : Buruk, jahat, aneh, atau sekadar kata sifat tergantung konteks.
Konteks penggunaan: Kata ini sering digunakan sebagai kata depan untuk menunjukkan sesuatu yang negatif atau aneh. Misalnya, “Ih, video itu skibidi banget.”
2. Rizz : Singkatan dari “kharisma”, merujuk pada kemampuan seseorang dalam merayu.
Konteks penggunaan: Biasa digunakan saat seseorang berhasil menggoda orang lain atau seorang yang tampil dengan sangat percaya diri. Misalnya, “Semua orang suka sama dia. Rizz-nya luar biasa!”
3. Sigma : Seorang yang dominan, mandiri, atau keren.
Konteks penggunaan: Digunakan untuk memuji dengan tulus tindakan yang dianggap keren atau berprinsip. Misalnya, “Dia tetap tenang, meski sedang diejek. Benar-benar sigma!”
4. Delulu : Singkatan dari kata “delusional”, untuk menunjukkan seorang yang berperilaku aneh atau tidak rasional.
Konteks penggunaan: Biasanya digunakan dalam konteks romantis atau terobsesi pada artis. Misal, “Dia pikir bakal bisa nikahin artis K-Pop, delulu tingkat tinggi deh.”
5. Gyatt : Slang dari kata God Damn. Untuk menyatakan kegembiraan atau terkejut, khususnya saat mengagumi bentuk tubuh seseorang.
Konteks penggunaan: Biasanya digunakan ketika melihat seseorang dengan fisik yang eye catching, namun seringkali maknanya objektifikasi.
6. Ohio : Aneh, kacau, kondisi tidak ideal.
Konteks penggunaan: Asal muasalnya dari meme yang menganggap negara bagian Ohio di AS adalah tempat penuh monster dan berbagai kejadian tidak rasional. Jadi, kata ini digunakan untuk mendeskripsikan situasi yang kacau. Misal, “Banyak berita absurd, nih negara lama-lama ohio deh.”
7. Fanum Tax : Mengambil makanan teman.
Konteks penggunaan: Kata ini populer karena seorang streamer bernama Fanum yang mengambil makanan temannya, Kai Cenat seolah seperti “pajak”. Jadi, siapapun yang mengambil makanan teman atau orang lain bisa pakai istilah ini. Misal, “Bagi bakwannya dong, buat fanum tax”.
8. Mewing : Membuat ekspresi wajah aneh bertujuan komedi.
Konteks penggunaan: Ini sebenarnya teknik menaruh lidah di langit-langit mulut untuk mempertegas garis rahang. Biasanya digunakan sembari meletakkan jari telunjuk di depan bibir (shushing). Konteksnya, orang yang melakukan latihan ini bisa terlihat lebih tampan/cantik.
9. Goated : Merujuk pada akronim GOAT (Greatest of All Time) atau terbaik sepanjang masa.
Konteks penggunaan: Digunakan untuk menggambarkan seorang yang dianggap sangat luar biasa dan legendaris. Misal, “Lionel Messi pemain goated sepanjang sejarah.”
10. Looksmaxxing : Upaya maksimal untuk meningkatkan penampilan fisik seseorang.
Konteks penggunaan: Digunakan untuk orang-orang yang berupaya maksimal meningkatkan penampilan fisik, seperti sedang diet, olahraga, atau perawatan kulit. Namun, dalam konteks brainrot, ini sering dibahas secara obsesif.
Mengapa Brainrot Viral
Fenomena brainrot bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari perpaduan antara teknologi dan perilaku organik manusia, sehingga menciptakan fenomena baru yang unik.
Platform media sosial, seperti TikTok, Reels Instagram, hingga YouTube Shorts memang dirancang untuk memaksimalkan retensi penonton. Konten brainrot biasanya dirancang berdurasi pendek, hanya sekitar 15-30 detik. Visualnya berubah setiap beberapa detik. Ini bisa memicu pelepasan dopamin secara cepat di otak.
Jika satu saja video brainrot anomali ditonton sampai habis oleh banyak orang, maka algoritma akan mengkategorikannya sebagai konten yang diminati banyak orang. Sehingga sistem akan menyebarkannya ke jutaan orang lainnya, tanpa peduli rasionalitas kontennya. Apalagi, jika konten semacam ini diberi respon oleh penontonnya, maka sebarannya akan semakin luas.
Selain itu, ini juga berkaitan secara psikologis manusia. Otak manusia yang terbiasa dengan kecepatan kerja smartphone sejak dini, cenderung akan mencari stimulasi yang lebih kuat.
Konten brainrot menyajikan warna kontras yang mencolok, suara berisik yang tumpang tindih, juga banyak hal terjadi dalam satu scene. Ini menciptakan kondisi, di mana penonton “terhipnotis” dan akan merasa sulit untuk berhenti scrolling.
Ini menciptakan pergeseran cara anak muda melihat komedi. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih menyukai komedi dengan setup dan punchline yang jelas, generasi masa kini lebih menyukai humor surreal. Semakin absurd sebuah humor, justru akan dianggap semakin lucu.
Banyak juga mereka yang menonton konten brainrot bukan karna mereka benar-benar menyukainya, tapi karena FOMO (Fear of Missing Out). So, unconsciously, mereka masuk ke dalam ekosistem ini yang menyebabkannya menjadi viral.
Dampak Brainrot
Guys, sebenarnya cukup bahaya jika konten brainrot dikonsumsi berlebihan. Ibaratnya, seperti kamu memberikan fast food untuk otak. Rasanya memang menyenangkan di awal, tapi lama-lama akan ada efek sampingnya, dia akan “menggerogoti” otak dari dalam.
Dampak Positif
Meski begitu, ada dampak positif yang memberikan warna baru dalam budaya populer, di antaranya:
- Evolusi bahasa dinamis. Munculnya contoh konten brainrot dan bahasa-bahasa baru yang menyertainya, menunjukkan bahwa generasi muda mampu beradaptasi secara linguistik dan bisa mengekspresikan konsep baru yang mungkin sebelumnya tidak bisa dijelaskan.
- Kreativitas berkembang. Pembuatan konten brainrot membutuhkan daya imajinasi yang liar. Bahkan, seringkali melibatkan teknik editing yang kompleks dengan sinkronisasi audio yang unik.
- Hiburan sederhana. Di tengah berbagai macam tekanan hidup menjadi dewasa, konten nonsense ini kadang menjadi pelarian yang ringan.
- Kebersamaan. Bahasa slang baru ini menciptakan ikatan sosial antar anak dalam satu generasinya. Mereka jadi memiliki “bahasa rahasia” yang kadang mungkin hanya dipahami oleh komunitas mereka.
Dampak Negatif
Di sisi lain, ngeri juga dampak negatif yang ditimbulkan dari konten brainrot ini.
- Komunikasi tidak efisien. Ketika istilah-istilah brainrot dibawa ke dunia nyata, komunikasi jadi kurang efisien. Orang-orang yang tidak terpapar konten ini, mungkin merasa asing, sehingga menghambat interaksi.
- Attention span menurun. Karakter konten brainrot yang kebanyakan hyper-stimulated bisa membuat otak hanya fokus pada sesuatu selama beberapa detik. Dampaknya, kamu akan kesulitan unutk bisa fokus lama.
- Erosi bahasa baku. Nah, ini adalah kekhawatiran terbesarnya. Situasi ini bisa membuat generasi muda, khususnya Gen Alpha, lupa menggunakan bahasa normal atau bahasa ibu. Ada risiko, lama kelamanaan bahasa baku akan tergerus di generasi masa depan.
Baca Juga: Yuk, Ketahui Apa Arti Manchild yang Sedang Viral di TikTok!
–
Gimana, guys? Ngeri juga ya kalau kita terlalu FOMO terhadap hal yang sebenarnya kurang penting dikuasai. Jika digunakan untuk hiburan sesekali bolehlah, tapi jangan sampai ini membuat diri kamu justru dikuasai oleh konten brainrot.
Ingat! Jika bahasa brainrot menjadi satu-satunya cara seseorang berkomunikasi, maka disitulah “pembusukan” ini akan terjadi. Kuasailah bahasa yang memang dibutuhkan untuk kehidupan nyatamu dengan terus berlatih di English Academy. Yuk, coba Kelas Gratisnya dulu!
References:
Oxford University Press. 2024. ‘Brain Rot’ named Oxford Word of The Year 2024. Diakses pada 18 Maret 2026, dari https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year-2024/.
Adair, Cam. 40 Brainrot Slang Words and Phrases Explained. Game Quitters. Diakses pada 18 Maret 2026, dari https://gamequitters.com/brainrot-slang/.
Merriam Webster. Brain Rot. Diakses pada 18 Maret 2026, dari https://www.merriam-webster.com/slang/brain-rot.
Chappell, Bill. 2024. Writer Thoreau warned of Brain Rot in 1854. Now it’s the Oxford Word of 2024. NPR. Diakses pada 18 Maret 2026, dari https://www.npr.org/2024/12/02/nx-s1-5213682/writer-thoreau-warned-of-brain-rot-in-1854-now-its-the-oxford-word-of-2024.



